Wednesday, August 5, 2009

Saat ini, sudah makin banyak orang beralih ke media online untuk mencari informasi. Sebab, melalui media maya tersebut, orang bisa mendapatkan informasi apa saja, layaknya sebuah perpustakaan digital dengan koleksi nyaris tanpa batas.

Kelebihan yang dimiliki media online ini, nampaknya akan makin menggusur keberadaan media cetak. Bahkan, bisa jadi suatu saat nanti, media cetak akan benar-benar tinggal kenangan semata.

Menulis Artikel Bahasa Inggris

Menulis artikel dalam bahasa Inggris tidaklah berbeda dg menulis op-ed dalam bahasa Indonesia. Tentu saja syarat dasar yakni kemampuan berbahasa Inggris harus dikuasai. Namun demikian, seberapa batas “mampu” dan “belum mampu” itu sangatlah relatif. Orang yg berkepribadian pesimis cenderung understimate (merendahkan) kemampuan diri, sementara yg sangat optimis cenderung overestimate (meninggikan kemampuan diri di atas fakta).

Untuk itu, salah satu tes kemampuan bahasa Inggris Anda adalah dengan mengirim tulisan artikel op-ed ke media massa koran berbahasa Inggris (lihat daftar email media berbahasa Inggris di dalam negeri dan luar negeri di bagian bawah tulisan ini).
Aturan teknis pengiriman artikel op-ed pada dasarnya tidak berbeda dg versi bahasa Indonesia kecuali satu: jangan mengirim tulisan bahasa Inggris dalam bentuk attachement, terutama ini berlaku bagi media luar negeri. Jadi, artikel cukup ditulis di bagian email.
fatihsyuhud.com

Bagaimana Supaya Produktif Menulis

Alasan umumnya orang ketika ditanya mengapa belum menulis buku biasanya klasik, “Saya sibuk. Tak ada waktu.” Alasan semacam ini hanya akan membunuh spirit. Dalam pengantar ensiklopedi The Encyclopaedia of Modern Muslim World (4 Volume, diterbitkan Oxford University Press), John Esposito, editor ensiklopedi tersebut mengatakan,

"The busiest is the most productive one."

Itu kata-kata hebat. Sangat lugas dan tepat. Intinya, kalau Anda bilang, “Saya sibuk,” sebagai alasan ketidakproduktifan Anda, pada hakikatnya adalah Anda sama sekali tidak sibuk. Anda pemalas atau minimal Anda tidak bisa mengatur waktu secara efektif dan efisien plus lemah kemauan. Lebih parah lagi, hal itu dibungkus dengan banyak alasan apologetik.

Jadi, tahap pertama menuju produktif adalah merubah paradigma “sibuk” dan mengakui kesalahan. Tidak mau mengakui kelemahan dan kesalahan sendiri adalah kesalahan terbesar.
Kedua, mulai mengoreksi kesalahan yang menjadi penyebab ketidakproduktifan kita.
Ketiga, apabila poin satu dan dua sudah teratasi, mulai fokus menulis. Ok, bagi yang baru di dunia tulis menulis, Anda dapat memulainya dengan rajin menulis setiap hari di blog masing-masing–bahasa Indonesia atau Inggris sama saja; bagi yang sudah sampai tahap ini, mulailah rajin mengirim tulisan ke media cetak atau online; dan yang sudah merasa “lulus” tahap ini, mulailah memikirkan untuk menulis buku.

Intinya, kalau kita ingin produktif, jangan pernah merasa puas. Sebab, kata guru SD saya dulu, “barang siapa merasa puas, maka sampai di situlah pencapaian kita terbatas.”

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan bagi yang melakukannya. fatihsyuhud.com

Honor Tulisan dan Biodata Penulis

Setelah tulisan selesai, jangan lupa menuliskan biodata anda.Biodata penulis biasanya harus berkaitan dengan tema tulisan dan isinya singkat. Kalau kebetulan tema tulisan sesuai dengan jurusan dan/jabatan kita, maka jurusan/jabatan bisa digunakan sebagai biodata. Contoh, Sdr. Purwono, Medan, menulis artikel seputar sastra, maka biodatanya bisa dua macam (a) Dosen Fakultas Sastra UISU, Medan; atau (b) Pembantu Dekan I, UISU, Medan (jabatan ini dapat juga dipakai sebagai biodata tulisan yang berkaitan dengan dunia pendidikan secara umum).

Akan tetapi kalau tulisan kita berkaitan dengan masalah yang tidak ada hubungannya dengan jurusan kita, maka dapat menggunakan biodata yang berkaitan dengan tulisan tsb. Contoh, Tasar Karimuddin yang jurusan ilmu politik menulis seputar agama, maka biodata bisa ditulis sebagai berikut: Penulis adalah Khatib KBRI New Delhi, atau Staf Litbang PPI-India, dst. Intinya, biodata bukan soal yang sulit. Ia dapat fleksibel, sesuai kebutuhan dan tema tulisan yang kita buat.
BonusApakah tulisan yang dimuat ada honornya? Tentu ada. Namun, honor tulisan lebih pantas disebut bonus mengingat jumlahnya tidak begitu besar, bahkan sangat kecil untuk koran daerah, kalau diingat bahwa diperlukan painstaking effort untuk riset bahan, dan lain-lain. Apresiasi intelektual memang masih sangat kurang di negara kita dibanding di negara maju. Termasuk dalam hal ini honor/gaji dosen (PNS atau swasta), misalnya, yang kalah jauh dengan penghasilan tukang bengkel atau pemilik toko.

Namun demikian, dibanding di India, honor tulisan di kita terbilang lumayan. Di the Jakarta Post (artikel bahasa Inggris), misalnya, tulisan yang dimuat bernilai Rp.750.000. Sedang di Kompas dan Jawa Pos, masing-masing Rp.450.000 dan Rp. 500.000. Ketiga koran ini adalah yang terbesar honornya. Sedangkan koran nasional lain seperti Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan lain-lain dan koran daerah di Jawa rata-rata Rp.300.000. Sementara untuk koran daerah luar jawa berkisar antara Rp.50.000 sampai 200.000.

Menulis memang hendaknya tidak diniatkan untuk mengharapkan honor (baca, untuk cari duit). Karena kalau ini yang jadi tujuan, banyak aktivitas non-intelektual lain yang dapat menghasilkan jumlah lebih besar, walaupun kalau tulisan kita dimuat secara teratur dua kali saja dalam sebulan bisa melebihi gaji dosen. Menulis, seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, bertujuan utama untuk (a) membangun kredibilitas intelektual dan gelar yang kita sandang; (b) menyebarkan ide yang kita miliki ke kalangan yang lebih luas; (c) ikut mewarnai dunia wacana nasional yang akan punya pengaruh langsung pada pembangungan masa depan Indonesia dan (d) membentuk citra baik almamater, institusi dan jabatan yang kita sandang.

Sebagai penutup uraian singkat tips menulis ini saya ingin mengulangi dan menekankan bahwa belajar menulis, terutama bagi pemula, adalah DENGAN MENULIS APA YANG MAU KITA TULIS. TIDAK PERLU BELAJAR TEORI. Dan kirimkan tulisan tsb. ke media. Idealnya, sebelum dikirim tulisan kita diperiksakan dulu pada rekan atau dosen anda yang biasa menulis. Kalau tidak ada, langsung saja dikirim. Jangan lupa, usahakan setiap hari membaca rubrik: headlines, editorial dan artikel opini koran yang anda baca. Soal nonteknis yang tak kalah pentingnya untuk produktifitas menulis adalah BE RESILIENT AND HUMBLE (tidak mudah putus asa untuk terus mencoba kalau tulisan tidak dimuat dan tetap rendah hati ketika tulisan dimuat).

afatih.wordpress.com